Tak Terima Hasil Pilkada Surabaya, Paslon MA-Mujiaman Ajukan Gugatan ke MK
Info

Tak Terima Hasil Pilkada Surabaya, Paslon MA-Mujiaman Ajukan Gugatan ke MK

Merdeka. com awut-awutan Tak dapat dengan hasil rekapitulasi hitung perkataan Pilkada Surabaya yang dilakukan oleh Premi Pemilihan Umum (KPU), pasangan Machfud Arifin-Mujiaman mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Machfud Arifin menengarai ada kecurangan yang sistematis, runtut, dan masif (TSM) dalam pilkada ini.

Hal itu membuatnya terpaksa menempuh jalur adat untuk menyelesaikan persoalan ini.

“Bagi saya, langkah lembaga di MK tidak sekadar menang atau kalah dalam pemilihan kepala daerah. Menang atau kalah merupakan hal yang biasa dan sungguh-sungguh kecil untuk diperdebatkan. Machfud Arifin-Mujiaman ingin menjadikan perjuangan di MK sebagai warisan (legacy) untuk mendaulat demokrasi yang lebih baik buat kedepannya. Karena ada persoalan kecurangan Terstuktur, Sistematis dan Massif dengan terjadi secara kasat mata dan tidak bisa saya biarkan sejenis saja, ” kata Machfud, Kamis (17/12).

Dalam penyampaian sengketa gugatan ke MK, MA-Mujiaman menunjuk tim hukum yang berisi enam orang advokat yakni Veri Junaidi, Febri Diansyah (mantan Jubir KPK), Donal Fariz, Jamil Burhan, Slamet Santoso, dan Muhammad Sholeh.

Sementara itu, kuasa hukum sekaligus mantan aktivis Nusantara Corruption Watch, Donal Fariz, mengatakan bahwa ia dan Febri sudah berdiskusi intensif langsung dengan Machfud, perihal dugaan kecurangan-kecurangan di Pilkada Surabaya 2020.

“Pilkada Surabaya terkesan baik-baik saja. Akan tetapi jika ketika masuk mendalami ada begitu banyak persoalan fundamental, ” katanya.

Ia menjelaskan, satu diantara dugaan kecurangan yang terjadi antara lain adalah bagaimana bagian pemerintahan menggunakan mesin birokrasi, perkiraan dan otoritas untuk menguntungkan bagian calon tertentu.

“Ada kebijakan yang diarahkan, ada pesawat birokrasi ASN (aparatur sipil negera) disuruh netral, tapi pimpinan ASN wara wiri kampanye. Itu dengan pertama, ” kata dia.

Kedua, tambahnya, adalah matinya electoral justice. Ia menyebutkan sebesar lembaga penegakan hukum pemilu diduga tak melakukan fungsinya dengan cara. Sejumlah laporan yang dilayangkan tidak ditindak lanjuti.

“Ini semakin menunjukkan kita bahwa banyaknya problem di lapangan, afiliasi kebijakan, mesin politik yang digerakkan tapi ternyata penegakan hukumnya macet. Oleh sebab itu bertemulah kita dengan konklusi kalau pemilu kecurangan dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif, ” ujarnya.

Terpisah, Adi Sutarwijono, Ketua Tim Pemenangan Eri-Armuji sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya mengatakan, pihaknya mempersilakan bagi kubu lawan yang tidak puas secara hasil Pilkada lalu untuk menempuh jalur hukum. Ia menganggap, jalan tersebut adalah hak masing-masing bagian.

“Adalah hak lantaran masing-masing pihak untuk menempuh belang hukum terkait hasil rekapitulasi Pilkada Surabaya, ” tandasnya.

Ia menyebut, dari seluruh cara Pilkada kemarin, tidak hanya lawan saja yang mengklaim menemukan kecurangan. Namun pihaknya juga menemukan berbagai bentuk kecurangan dan sudah melaporkan kasus tersebut ke Bawaslu.

“Dari seluruh proses Pilkada hingga Hari-H coblosan, rakyat cakap siapa yang bagi-bagi sembako, bagi sarung dan bagi-bagi uang. Saya menemukan bukti-bukti kecurangan itu, dengan terstruktur, massif, dan sistematis, yang dilakukan di banyak tempat dalam Surabaya. Dan, temuan-temuan itu sudah kami laporkan ke Bawaslu, ” tegasnya.

Terkait program Paslon Machfud mengajukan gugatan ke MK, ia pun berharap agar majelis hakim MK memberikan vonis yang seadil-adilnya.

“Kami yakin Majelis Hakim MK akan memutus sesuai keadilan. Karena buatan Pilkada Surabaya terdapat selisih perkataan yang amat jauh, sebanyak 145 ribu lebih, dimana paslon Eri mengungguli Machfud Arifin. Saran awak sih, sebaiknya legawa saja, kita terima ‘sabda’ rakyat seluruh Surabaya 9 Desember 2020 lalu. Sebab rakyat adalah tuan dalam cara demokrasi ini. Dan, suara anak buah adalah suara Tuhan, vox populi vox Dei, ” tutupnya.

Diketahui, Komisi Pemilihan Ijmal (KPU) Kota Surabaya menuntaskan rekapitulasi suara Pilkada Surabaya 2020.

Dalam keputusan hasil kerap pleno rekapitulasi suara tingkat kota itu, Eri Cahyadi-Armudji Paslon cetakan urut 1 mendapat 597. 540 suara dan Machfud Arifin-Mujiaman mendapat 451. 794 suara.

Adapun jumlah suara sah satu. 049. 334, jumlah suara tak sah 49. 135 suara. Total jumlah suara sah dan tidak sah 1. 098. 469. [lia]