Info

KPK Pastikan Hasil Tes Menteri Edhy Prabowo Negatif Covid-19

Merdeka. com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menipu Edhy Prabowo dalam kasus perkiraan suap penempatan perizinan ekspor benih lobster atau benur. Usai dijerat tersangka, Edhy langsung dijebloskan ke ruang tahanan.

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, sebelum ditahan, Edhy serta tersangka lainnya sudah lebih dahulu menjalani pemeriksaan dokter terkait virus Corona Covid-19.

“Sebelum dilakukan penahanan, tersangka EP (Edhy Prabowo) dan lainnya tentunya telah dilakukan prosedur pemeriksaan kesehatan kelengkapan oleh dokter poliknik KPK termasuk salah satunya Rapid Test Covid-19, ” ujar Ali dalam keterangannya, Kamis (26/11/2020).

Ali mengatakan, pemeriksaan untuk meminimalisasi penyebaran virus corona Covid-19. Ali membenarkan, hasil tes terhadap Edhy menyatakan negatif Covid-19.

“Adapun hasil pemeriksaan tes Covid-19 daripada tersangka EP dan lainnya dinyatakan negatif, sehingga dilanjutkan dengan proses isolasi mandiri selama 14 keadaan terlebih dahulu, ” kata Ali.

Dalam kasus itu, KPK menjerat Menteri Edhy, Safri (SAF) selaku Stafsus Menteri KKP, Andreau Pribadi Misanta (APM) demi Stafsus Menteri KKP, Siswadi (SWD) selaku Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Ainul Faqih (AF) selaku Staf istri Menteri KKP, dan Amiril Mukminin (AM). Itu ditetapkan sebagai tersangka penerima suap.

Sementara diduga sebagai pihak pemberi, KPK menjerat Suharjito (SJT) selaku Direktur PT Besar Putra Perkasa Pratama (DPPP).

Edhy Prabowo dijerat jadi tersangka karena diduga menerima suap dari perusahaan-perusahaan yang mendapat penetapan izin ekspor benih lobster menggunakan perusahaan forwarder dan ditampung di dalam satu rekening hingga mencapai Rp 9, 8 miliar.

Uang yang masuk ke bon PT ACK yang saat itu jadi penyedia jasa kargo satu-satunya untuk ekspor benih lobster itu selanjutnya ditarik ke rekening pemegang PT ACK yaitu Ahmad Bahtiar dan Amiril Mukminin senilai mutlak Rp 9, 8 miliar.

Selanjutnya pada 5 November 2020, Ahmad Bahtiar mentransfer ke rekening staf istri Edhy bertanda Ainul Faqih sebesar Rp 3, 4 miliar. Uang Rp 3, 4 miliar itu diperuntukkan untuk keperluan Edhy Prabowo, Iis Rosyati Dewi selaku istri Edhy, Safri dan Andreau Pribadi Misanta kurun lain dipergunakan untuk belanja barang mewah oleh Edhy dan Iis di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.

Belanja tersebut dikerjakan pada 21 sampai dengan 23 November 2020. Sejumlah sekira Rp 750 juta di antaranya berbentuk jam tangan rolex, tas Tumi dan LV, baju Old Navy.

Keenam tersangka penyambut disangkakan Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Kejahatan Korupsi juncto Pasal 55 bagian (1) ke 1 KUHP.

Sedangkan tersangka pemberi disangkakan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tarikh 1999 sebagaimana telah diubah secara Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Manipulasi.

Sumber: Liputan6. com
Reporter: fachrur Rozie [ded]