Sejarah Kuli Bangunan Tinggal di Gubuk Beratap Seng Bekas, 7 Kamar Nganggur Imbas Covid
Info

Sejarah Kuli Bangunan Tinggal di Gubuk Beratap Seng Bekas, 7 Kamar Nganggur Imbas Covid

Merdeka. com – Wabah Covid-19 membuat semua orang kesulitan dalam pelbagai segi kehidupan, terutama perekonomian. Tidak tersendiri yang juga dirasakan Adrianus Klakik dan Marince Nifu.

Pasangan suami istri ini ada dua orang anak. Adrianus bekerja sebagai tukang bangunan namun tujuh bulan terakhir sepi pekerjaan. Sebesar kontrak pekerjaan membangun rumah kendati dibatalkan. Dia bahkan tidak segan menawarkan jasanya saat melihat tersedia yang membangun rumah.

“Saya kerja serabutan asal memperoleh uang untuk membiayai hidup serta kebutuhan keluarga saya, ” ujar Adrianus, Kamis (1/10).

Sejak beberapa waktu lalu, Adrianus yang hanya tamat SMP itu tinggal di lahan kosong hak kerabatnya. Mereka hanya membangun gubuk sederhana beratapkan seng bekas. Dia memanfaatkan tripleks bekas dari wadah kerja sebagai dinding, sedangkan dasar dibiarkan beralas tanah.

Untuk kebutuhan listrik dan cairan bersih, Adrianus numpang dari rumah tetangga. Untuk menampung air, Dia memanfaatkan terpal bekas sebagai tempat darurat, sedangkan kamar mandi dan toilet hanya ditutupi empat carik seng sebagai dinding dan minus atap.

Ia mengaku benar-benar kesulitan mendapatkan biaya buat kehidupan keluarganya. Bahkan rumah tangganya tidak pernah mendapatkan bantuan barang apa pun dari pemerintah, karena belum mempunyai kartu keluarga dan kartu tanda penduduk walau telah menetap sebagai warga Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang sejak 2008 silam.

Melihat kedudukan kehidupan keluarga Adrianus, seorang bagian polisi bernama Bripka Endy Boko tergerak hatinya untuk membantu. Anggota Bhabinkamtibmas Kelurahan Fatukoa ini pun menahan beras jatahnya dari kantor buat diberikan Adrianus Klakik dan keluarganya.

Peristiwa penting dengan tidak bisa dilupakan Adrianus Klakik sekeluarga terjadi pada Selasa (29/9) malam. Saat itu Adrianus Klakik pulang tanpa membawa uang sebab tidak mendapatkan pekerjaaan. Sedangkan dirumah, sang istri Marince Nifu was-was karena ketiadaan beras sementara ke-2 anak mereka menangis kelaparan.

Marince Nifu pun berusaha mencari jalan keluar namun semuanya buntu. Ia makin sedih masa suaminya pulang tanpa membawa kekayaan, maupun beras.

Adrianus coba mengecek celengan yang masih tersisa uang receh sebesar Rp 18. 000. Adrianus pun ke warung untuk membeli dua kilogram beras.

Dalam kunjungan ke warung, secara kebetulan Bripka Endy Boko datang mengantar padi jatah bulanan untuk disumbangkan pada Adrianus sekeluarga.

“Saat itu saya benar-benar terharu karena terbantu, ” ujar Adrianus.

Bripka Endy Boko tunggal mengaku tergerak membantu Adrianus sebab prihatin akan kehidupan mereka yang belum tersentuh bantuan. “Saya duka dan bantuan yang sedikit kiranya bisa membantu mereka yang memerlukan, ” jelasnya.

Bantuan beras dari jatah kantor ini akan rutin diberikan. Sang istri pun mendukung penuh langkah yang dilakukan Bripka Endy Boko, karena masih banyak masyarakat yang benar-benar terdampak Covid-19. [gil]