Nasaruddin Umar: Ada Dua Bahaya Harus Kita Atasi, Covid-19 & Virus Radikal Terorisme
Info

Nasaruddin Umar: Ada Dua Bahaya Harus Kita Atasi, Covid-19 & Virus Radikal Terorisme

Merdeka.com – Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Republik Indonesia harus dijadikan momentum bagi bangsa Indonesia untuk memperkuat ketahanan nasional memerangi Covid-19 dan virus radikal terorisme. Peran dan kedisiplinan masyarakat dinilai sangat dibutuhkan.

“Saat ini ada dua bahaya laten yang harus kita atasi, virus Covid-19, lalu yang kedua adalah radikal terorisme. Ini sama bahayanya. Sebagai warga bangsa, Covid-19 dan virus radikal terorisme harus dan wajib kita singkirkan dengan usaha dan doa tentunya,” kata Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, Minggu (16/8).

Lebih lanjut, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta itu menyampaikan untuk mengisi kemerdekaan, masyarakat harus bekerjasama menanggulangi virus yang saat ini tengah melanda Indonesia.

“Selain itu, kami juga berharap kerjasama masyarakat dan pemerintah untuk memerangi atau memusuhi segala bentuk terorisme, kekerasan dan semacamnya. Kalau ini dilakukan saya kira kita akan hidup tentram sebagai warga bangsa,” terangnya.

Nasaruddin mengungkapkan untuk menanggulangi paham radikal terorisme, masyarakat harus memiliki pemahaman agama yang mendalam dan jangan belajar kepada guru yang tidak tepat. Menurutnya, perlu bagi kita untuk memahami Alquran dan Hadist secara mendalam agar tidak melenceng.

“Karena pemahaman agama yang melenceng bisa bahaya dalam masyarakat. Karena itu belajarlah kepada sumber yang lebih baik. Jangan belajar kepada orang-orang yang tidak jelas keilmuannya. Bangsa kita yang seperti ini, yang sangat plural saya harap mari kita jalin persatuan dan kesatuan bukan menekankan aspek perbedaan dan pertentangan,” tuturnya.

Mantan Wakil Menteri Agama ini menyampaikan bahwa harus ada yang bisa menjadi contoh di dalam masyarakat, paling tidak dalam lingkungan untuk menjalankan agama secara toleran. Termasuk juga memiliki jiwa nasionalisme untuk membangun bangsa.

“Nasionalisme memiliki banyak bentuk, cinta produk dalam negeri misalnya, cinta pemikiran-pemikiran dalam negeri. Jangan seolah-olah pemikir barat itu benar, mutlak, atau timur tengah itu benar. Nasionalisme itu bukan hanya konsumsi produk dalam negeri, konsumsi pemikiran dalam negeri pun juga perlu,” pungkasnya. [did]