Taat Petunjuk Bapak Presiden
Info

Taat Petunjuk Bapak Presiden

Merdeka. com – Wahyu Purwanto berdiri pada depan. Baju biru tua dan peci hitam dikenakan. Sorot sembrono kamera mengarah padanya. Ada pemberitahuan penting hari itu, Senin (27/7). Disampaikan langsung Wahyu.

Keinginannya menjadi kandidat bakal bahan Bupati Gunungkidul ditanggalkan. Keputusan mengandung. Namun dilakoninya. Setelah beberapa keadaan sebelumnya, dia bertemu dua aktivis penting. Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (NasDem) Surya Paloh.

Menurut petunjuk Presiden Joko Widodo, Wahyu lebih tepat berjalan dalam sisi lain. Bukan di hidup politik. Memang tidak ada titah mundur yang keluar dari pernyataan Presiden. Tapi Wahyu bisa menangkap maksudnya.

“Setelah tahu perkembangan dan faktor eksternal lainnya, kemudian beliau ( Jokowi ) lebih memikir dalam. Mungkin tepatnya saya ini dasar di bidang sosial, tidak di bidang politik, ” ujar Wahyu saat berbincang dengan merdeka. com, kemarin.

Presiden Jokowi melihat Wahyu banyak membuat kesibukan sosial di Gunungkidul. Bagian sebab pemberdayaan masyarakat. Perlu dilanjutkan. Bertambah independen. Tanpa embel-embel kepentingan kebijakan di dalamnya.

Langsung Presiden Jokowi berbincang dengan Pemimpin Umum Partai NasDem Surya Paloh. Mengingat nama Wahyu sudah menghunjam ke DPP Partai NasDem jadi kandidat bakal calon Bupati Gunungkidul. Surya Paloh senada dengan petunjuk Presiden Jokowi. Perintah turun sebab markas NasDem di Gondangdia, Jakarta Induk.

“Walaupun menyampaikannya tak langsung pada saya, tetapi melalui struktur partai. Tapi perintahnya langsung kepada saya adalah memang sepatutnya saya fokus di bidang baik, ” jelasnya.

Perkara faktor eksternal yang jadi petunjuk Presiden. Wahyu mencoba menafsirkannya. Apalagi kalau bukan soal isu kebijakan dinasti. Gencar dihembuskan dan menyerbu keluarga Presiden. Mengingat di masa bersamaan, putra dan menantu Kepala Jokowi, Gibran Rakabuming Raka & Bobby Nasution, juga bersiap diri menuju arena pertarungan politik. Dalam Solo dan Medan.

Sebagai kakak, Jokowi selalu mencoba mengakomodir keinginan keluarga. Jokowi tak melarang keluarganya terjun ke negeri politik. Tapi Wahyu mencoba menetapkan semua pihak. Tidak ada sebutan politik dinasti yang dianut tim Presiden Jokowi. Sebagai warga negara, putra dan menantu Jokowi mempunyai berlaga di panggung politik.

Dia mengenal betul wujud Jokowi. Di mata Wahyu, kakak iparnya itu adalah seorang atasan yang memiliki pandangan luas. Karena itu, Wahyu menuruti petunjuk Jokowi.

“Tidak ada permintaan khusus dari Pak Jokowi kalau saya harus mundur karena menghindari anggapan dinasti politik. Tidak tersedia kaitannya dengan majunya Mas Gibran dan Mas Bobby saya disuruh mundur, ” tegasnya.

Ada satu hal lagi dengan membuat Wahyu yakin Jokowi tak menerapkan politik dinasti. Tak tersedia perintah untuk memenangkan putra serta menantunya. Mereka berdua harus berjuang sendiri. “Tidak diminta membantu Gibran di Solo. ”

Tak hanya Jokowi, Surya Paloh juga menitipkan pesan. Wahyu diminta tetap ikut membesarkan partai. Urusan bagi setiap anggota partai. Membesarkan partai melalui bidang sosial pada Gunungkidul. Banyak yang bisa dilakukan berbekal potensi daerah. Agar asosiasi bisa merasakan manfaat dari kekayaan daerah.

Sebenarnya, besarnya potensi Gunungkidul yang menjadi dalil Wahyu untuk maju menjadi bahan kepala daerah. Dari sektor pertanian hingga kelautan. Hasilnya bisa buat menyejahterakan masyarakat. Tapi takdir berceloteh lain. Jalan Wahyu bukan pada jalan politik.

Ini adalah kegagalan kedua. Pada 2015, Wahyu pernah menjajal pertarungan Pilkada Gunungkidul sebagai calon wakil bupati. Kali ini, dia gagal melangkah sebagai bakal calon bupati.

Petunjuk Presiden dan Ketua Partai diturutinya. Dia melangkah tertinggal. Berpamitan dan menjauh dari hingar bingar audisi pemilihan kepala kawasan.

“Saya yakin apa yang disampaikan dan diarahkan beliau berdua pasti baik. Sehingga hamba ikuti arahan beliau berdua itu. Arahan ini bukan arahan nihil. Saya mengikuti saja, ” tutupnya. [noe]