Sampah Bantergebang Overload, Wagub DKI Riza Patria Minta Segera Diolah Jadi PLTSa
Info

Sampah Bantergebang Overload, Wagub DKI Riza Patria Minta Segera Diolah Jadi PLTSa

Merdeka. com – Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta , Ahmad Riza Patria meninjau Tempat Penyingkiran Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (26/7). Kunjungannya untuk memastikan pengelolaan sampah warga Jakarta berjalan sesuai prosedur. Selain itu, pengelolaan sampah juga kudu memiliki terobosan terbaru.

“Siang ini saya melakukan anjangsana ke TPST Bantargebang di daerah Bekasi untuk mengecek, memastikan, tata sampah berjalan dengan baik & lancar sesuai dengan harapan kita, ” kata Riza dalam fakta resminya yang diterima merdeka. com (26/7).

Di tengah pandemi Covid-19, Riza mengakui kalau ada pengurangan anggaran dalam pengelolaan sampah DKI Jakarta. Namun, dia memastikan Pemprov DKI Jakarta langsung berupaya mencari solusi agar tata sampah berjalan dengan baik.

TPST Bantargebang menerima 7. 702, 06 ton sampah dari Jakarta bola lampu harinya. Dengan rincian, sampah terbanyak berasal dari permukiman dan fasos/fasum. Sebanyak 6. 571 ton/hari ataupun 85, 3 persen. Kemudian kotor terbanyak kedua berasal dari rekan. Sebanyak 5. 931 ton/hari ataupun 7, 7 persen. Kemudian sebab kawasan mandiri 260, 48 ton/hari atau 3, 4 persen serta dari sumber badan air serta Kepulauan Seribu sebanyak 279, 15 ton/hari atau 3, 6 persen.

Jumlah sampah yang berhasil diolah tak sebanding dengan sampah yang diterima per hari. Berdasarkan informasi dari Dinas Dunia Hidup Provinsi DKI Jakarta, TPST seluas 110, 3 hektar ini diperkirakan tidak mampu menampung kotor lagi pada tahun 2021.

Hal ini bisa berlaku jika tidak dilakukan sejumlah upaya pengurangan sampah dari sumber. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan pendayagunaan Intermediate Treatment Facility (ITF). ITF merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Kotor (PLTSa).

Riza meminta segera ditemukan terobosan terbaru pada mengelola sampah. sehingga mempercepat penyelesaian pembangunan ITF di beberapa titik di DKI Jakarta.

“Karena itu, kita ingin mengaduk-aduk terobosan-terobosan dalam pengelolaan sampah dan perlu segera mempercepat penyelesaian pendirian ITF di beberapa titik wilayah DKI Jakarta, termasuk di Bantargebang ini, ” tuturnya.

Seperti diketahui, pada Maret 2018, Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan Institusi Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meresmikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebagai pilot project nasional pengolahan sampah yang berharta menghasilkan listrik hingga 700 kw/jam dengan kapasitas sampah 100 ton/hari. Saat ini, dengan dukungan dibanding Kementerian PUPR RI, sedang dikerjakan pre-treatment untuk pengembangan PLTSa tersebut.

“Kita ingin memastikan bahwa kerja sama antara BPPT dengan Pemprov yang sudah berjalan beberapa tahun ini bisa tetap ditingkatkan lagi, termasuk tadi ada Pekerjaan Rumah (PR) untuk pengalihan aset dari BPPT ke DKI Jakarta, ” katanya.

Pemprov DKI Jakarta sudah melayani berbagai cara pengelolaan sampah untuk kehidupan sehari-hari. Misalnya, teknologi Instalasi Pengolahan Air Sampah (IPAS) maka 470 m3/hari, pengelolaan gas landfill untuk menghasilkan energi listrik sejumlah 3 MW, pengomposan, hingga penghijauan di TPST Bantargebang.

“Terakhir, kita ingin memanfaatkan sampah ini untuk kepentingan yang lebih baik, humus conblock, campuran belangkin, termasuk energi listrik. Jadi, dengan hari ini akan ditingkatkan, ” tutupnya. [noe]